Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

10 Teknik Berbahasa/Frase yang dapat Mempengaruhi Orang Lain dengan Mudah

Bahasa adalah alat untuk kita berkomunikasi yang bertujuan untuk menginformasikan, menjelaskan, mengabarkan dan juga menyampaikan gagasan kepada orang lain. Manfaat lain kemampuan berbahasa adalah untuk mempengaruhi orang lain, maka mengenal pola bahasa yang dapat mempengaruhi orang lain menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dikuasai. Mengapa mempengaruhi orang lain itu penting, karena pada dasarnya kita hidup adalah menawarkan sesuatu  kepada orang lain, sehingga kemampuan mempengaruhi orang lain menjadi jalan sukses dalam kehidupan kita. Berikut 10 pola bahasa/frase yang dapat mempengaruhi orang lain.

1. Teknik Menghidupkan Staistik 

Berguna untuk mengupas akibat yang lebih dramatis/mengarahkan penafsiran. Saat  Anda memaparkan data-data, jangan biarkan pembaca kesulitan mencerna. Buatlah kalimat dengan cara mengikuti angka-angka statistik dengan menggunakan frasa sebagai berikut:

  • Otomatis
  • Akibatnya
  • Sehingga
  • Dengan demikian
  • Akhirnya tidak heran jika
  • dll

Contoh:  “Hanya 40% anak lahir di Indonesia yang punya akta lahir.” 

Buat kalimat dengan menghidupkan statistik: 

“Hanya 40% anak lahir di Indonesia yang punya akta lahir, dengan demikian lebih dari separo dari total kelahiran anak tidak tercatat, akibatnya secara otomatis kualitas vital statistik kita amat jelek bagi sumber perencanaan pembangunan.”

2. Sudut Pandang Statistik
Statistik adalah alat generalisasi yang ampuh, dalam menyajikan suatu angka, pilihlah sudut pandang yang paling dramatis/paling berefek: Data :  Hanya 30% anak yang punya akta.

Ubah sudut pandangnya agar lebih dramatis: 
Hanya 1/3 anak yang punya akta
Jumlah anak yang punya akta adalah 1: 3
Ada 70% yang tidak punya akta 7 dari 10 tidak punya akta

3. Generalisasi Subjek
Mengubah subjek menjadi umum atau kabur. Tujuannya memunculkan efek lebih luas. Misalnya ada peristiwa di mana beberapa orang tua mengeluhkan tingginya biaya mengurus Kutipan Akta Kelahiran di provinsi X. Kalimat asli : “Beberapa orang tua mengeluhkan tingginya biaya pengurusan Akta kelahiran anak di provinsi X". 
Ubah menjadi:  Masyarakat mengeluhkan tingginya biaya pengurusan Akta kelahiran di provinsi X".

4. Metafora/Analogi
Memiliki beberapa fungsi:
  • Berguna mempermudah seseorang untuk mengerti atas sebuah pengertian yang rumit. 
  • Membuat seseorang menerapkan sendiri pada situasinya (mendapatkan insight ) atas suatu hal.
Metafora tidak selalu harus menggunakan suatu pribahasa, namun bisa menciptakan sendiri suatu relasi hubungan kemiripan dengan peristiwa/fenomena lain. Biasanya ditandai dengan kata mirip, seperti, bagaikan, umpamanya, dll. 
Contoh : Mesin fax itu seperti fotokopi jarak jauh yang dihubungkan melalui kabel telepon.

5. Presuposisi/Peningkatan
Digunakan untuk memunculkan pesan bawah sadar bahwa suatu hal sudah terjadi atau sedang meningkat intensitasnya, dengan cara menggunakan kata “mulai” atau “semakin” . 
Contoh sebuah surat kabar menulis “.” Hal ini tidak perlu dikatakan, namun pembaca sudah otomatis menyimpulkan.

Contoh Penggunaan:
  • Pemilu mulai menelan korban.”, maka pesan bawah sadar dari berita ini adalah “akan menelan korban lagi”
  • Kami merasa senang, kedatangan kami di DPRD ini disambut dengan baik, hubungan baik ini mulai terwujud di antara kita.
  • Kondisi masyarakat di sekitar wilayah yang terkena banjir semakin memburuk.
  • Melihat respon Bapak Walikota, kami semakin yakin saat ini perhatian akan hak anak semakin besar di kalangan eksekutif.
6. Ilusi Pilihan
Merupakan teknik untuk mendapatkan persetujuan orang lain, tanpa  bertanya setuju atau tidak. Dilakukan dengan cara memberikan dua pilihan (yang keduanya adalah tujuan kita), dengan menggunakan kata sambung “atau”. Pembaca /pendengar dikondisikan untuk berpikir bahwa dirinya sudah setuju. 
Misalnya, Anda ingin menyuruh anak Anda untuk mandi, hindari mengatakan “Adik mau mandi kan?”. Jauh lebih baik jika dikatakan dengan cara ilusi pilihan: “Adik mau mandi sendiri atau dimandiin”. 

Contoh penerapan:
Setelah menjelaskan panjang lebar dan berdiskusi mengenai pentingnya Perda tertentu, jangan mengatakan, “Jadi apakah usulan kami untuk menerbitkan Perda ini disetujui ?” 

Katakan: “Anggota dewan yang terhormat, kami di sini membawa contoh beberapa Perda yang berasal dari kabupaten lain. Kami tidak tahu apakah Bapak Ibu lebih senang mempelajari sendiri Perda-perda itu, atau kami bantu dengan kajian dan sekaligus menyusunkan draft awal Raperda-nya.” Intinya adalah, apapun pilihannya, maka akan ada pembahasan Perda.

7. Frase Afirmatif
Dipakai untuk meningkatkan efek “tak terbantahkan …”, mengurangi resistensi. Caranya adalah tambahkan frasa berikut ini di awal kalimat yang akan Anda katakan pada orang lain:
  • Sudah jelas bahwa
  • Sudah menjadi rahasia umum
  • Telah diketahui bersama
  • Sudah tradisi
  • Sudah disepakati
  • Tak dapat dielakkan lagi
  • Sudah dimaklumi
  • Niscaya
8. Judgement yang Disembunyikan
Dalam berargumentasi, sering kali seseorang mengatakan: “Menurut pendapat saya….” Atau “Menurut hemat kami…”. Frasa ini amat tidak efektif, karena akan menimbulkan efek ingin menonjolkan diri pembicara. 
Jauh lebih baik jika frasa tadi dihilangkan, dan langsung mengatakan kalimat yang diawali dengan kata-kata sebagai berikut:
  •  Sungguh bagus sekali untuk…
  •  Alangkah baiknya …
  •  Alangkah bijaksananya, jika…
9. Power Questions
Untuk mengurangi resistensi, perintah/saran dapat diperhalus dengan cara mengartikulasikannya sebagai suatu pertanyaan. Kalimat disusun dengan cara menanyakan apakah kondisi yang diinginkan sudah tercapai/dapat dilakukan.

Contoh:
Apakah pintu ruangan ini sebaiknya ditutup karena suara di luar mengganggu?”.
Pertanyaan ini akan ditanggapi dengan cara menutup pintu oleh orang yang ditanya.
Saat ia menutup pintu tidak akan merasakan terpaksa, namun merasa muncul ide dari dalam sendiri (self sugesti).  Dalam membuat perintah berbentuk pertanyaan, tindakan yang diperintahkan harus berupa suatu tindakan yang bisa dikerjakan saat itu juga.

Contoh penggunaan:
“Jadi bisakah kita melangkah pada pembicaraan teknik penyusunan PERDA?”
“Apakah kita bisa mulai rapat ini sekarang?”

10. Frase Berbahaya
Untuk menjadikan presentasi makin efektif, hindari menggunakan katakata/ frasa ini:
  1. Terus terang saja/Jujur saja
  2. Sebenarnya/sebetulnya
  3. Tapi, nggak, tidak
Kata-kata (1) dan (2), akan menimbulkan perasaan bawah sadar yang tidak nyaman bagi pendengarnya. Mereka akan merasa aneh, berarti selama ini kita tidak terus terang, tidak jujur, tidak mengatakan yang sebenarnya, dan sebagainya.  Kata-kata (3) perlu dihindarkan sebagai kata-kata awal yang cenderung dikatakan saat menanggapi suatu keberatan. Kata-kata ini akan memicu perasaan ditolak, disangakal, tidak disetujui.


Posting Komentar untuk "10 Teknik Berbahasa/Frase yang dapat Mempengaruhi Orang Lain dengan Mudah"